Tampilkan postingan dengan label Curcol... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curcol... Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Mei 2013

Siapakah Orang yang Paling Kau Takuti?

     Setiap insan dalam perjalanan hidupnya pasti memiliki tokoh panutan atau seseorang yang ditakuti, yang sanggup membawa perubahan besar dalam bersikap. Dimana dengan kehadiran orang tersebut kita rela, meski dengan terpaksa, melakukan hal apapun yang sebenarnya enggan kita lakukan. Dalam hidupku, seseorang tersebut adalah Uak atau kakak laki-laki ibu yang telah meninggal bertahun-tahun yang lalu.
     Begini cerita singkatnya. Aku lahir dan dibesarkan di kota kecil bernama Sungai Gerong, tepatnya terletak di Provinsi Sumatera Selatan,  Palembang. Sejak kecil, saat liburan sekolah menjelang hari raya Idul Fitri, kami sekeluarga selalu mudik ke tempat kelahiran ibuku, di kota Bandung. Hingga aku duduk di kelas satu SMP tradisi mudik ini pun tetap berlangsung.
       Nah, saat mudik ini biasanya kami berkumpul di rumah nenek di sebuah gang kecil di jalan Mohammad Toha. Waktu berkumpul itulah kami bertemu dengan Uak, namanya Uak Soeroso. Itu adalah saat paling religius dalam hidupku. Karena apa? Ya, karena aku sanggup mengerjakan sholat lima waktu, tentu saja dengan penuh rasa takut, pada Uak.
       Alm. Uak adalah seseorang yang sangat keras dalam hal pendidikan agama dan pelajaran sekolah. Dan Uak pun merupakan orang yang disegani oleh lingkungan sekitar, sering dipercaya untuk menjadi khotib saat sholat Jum’at. Pantas saja. Alm. Uak memiliki dua orang anak perempuan, yang pastinya lebih berpengalaman dalam merasakan didikannya yang keras. Aku yang paling tua diantara kedua sepupuku, dan aku yang paling lalai sholatnya.
       Memasuki semester dua, masih kelas satu SMP, kami sekeluarga pindah ke kota Bogor. Lalu ketika menginjak kelas satu SMA, aku memberanikan diri untuk tinggal bersama keluarga Uak di Bandung. Sementara kedua orangtuaku masih menetap di Bogor. Nah, ini pun menjadi saat terpintar dalam hidupku. Mengapa demikian? Karena, bersama ketiga anak-anaknya (tentu saja anaknya sudah bertambah satu), aku terbawa arus untuk rajin belajar. Rajin sekali. Dan setiap habis sholat Maghrib pun kami harus mengaji dengan suara yang keras. Sementara Uak mendengarkan dari luar kamar. Sehingga akan terdengar siapa yang tidak mengaji. Alhamdulillah aku sudah dibekali oleh kedua orangtuaku modal penting ini. Entah bagaimana nasibku di tangan Uak apabila belum lancar mengaji. Terima kasih, Ibu & Ayahku.
       Ini sedikit kisah di bangku kelas satu SMA. Aku sebangku dengan seorang perempuan bermata sayu dan pintar, Ratna namanya. Dalam belajar kami bersaing lumayan ketat. Hingga saat pembagian  raport semester pertama, teman sebangku ku itu  mendapatkan rangking satu, sedangkan aku dengan proses belajar yang menegangkan mendapatkan rangking dua. Begitupun ketika menginjak semester kedua. Ini adalah tahun gemilang di hidupku yang tak akan terlupakan.
       Nah, selanjutnya adalah saat yang membahagiakan. Ketika menginjak kelas dua, aku berkumpul kembali bersama kedua orang tua yang akhirnya pindah juga ke Bandung. Otomatis kebebasan kembali merasuk ke dalam jiwaku. Walhasil, karena rasa takut yang semakin menumpul dan terbebas dari tuntutan nilai yang harus bagus, aku langsung mengalami degradasi rangking. Melonjak pesat keluar dari 10 besar.  It’s so dramatic. Hehe.
       Itulah sekelumit kisah tentang orang yang paling aku takuti dan telah membawa pengaruh besar dihidupku, terutama tentang pembiasaan sholat lima waktu. Jazakumullah khairan katsiiraa, Uak. Beliau pun menjadi tempat aku bertanya dan berdiskusi tentang hal apapun, terutama tentang ilmu-ilmu agama. Hanya doa yang bisa kulantunkan, saat ingatan tentangmu hadir dalam benak.
      



Siapakah Orang yang Paling Kau Takuti?

       Setiap insan dalam perjalanan hidupnya pasti memiliki tokoh panutan atau seseorang yang ditakuti, yang sanggup membawa perubahan besar dalam bersikap. Dimana dengan kehadiran orang tersebut kita rela, meski dengan terpaksa, melakukan hal apapun yang sebenarnya enggan kita lakukan. Dalam hidupku, seseorang tersebut adalah Uak atau kakak laki-laki ibu yang telah meninggal bertahun-tahun yang lalu. 
     Begini cerita singkatnya. Aku lahir dan dibesarkan di kota kecil bernama Sungai Gerong, tepatnya terletak di Provinsi Sumatera Selatan,  Palembang. Sejak kecil, saat liburan sekolah menjelang hari raya Idul Fitri, kami sekeluarga selalu mudik ke tempat kelahiran ibuku, di kota Bandung. Hingga aku duduk di kelas satu SMP tradisi mudik ini pun tetap berlangsung.
       Nah, saat mudik ini biasanya kami berkumpul di rumah nenek di sebuah gang kecil di jalan Mohammad Toha. Waktu berkumpul itulah kami bertemu dengan Uak, namanya Uak Soeroso. Itu adalah saat paling religius dalam hidupku. Karena apa? Ya, karena aku sanggup mengerjakan sholat lima waktu, tentu saja dengan penuh rasa takut, pada Uak.
       Alm. Uak adalah seseorang yang sangat keras dalam hal pendidikan agama dan pelajaran sekolah. Dan Uak pun merupakan orang yang disegani oleh lingkungan sekitar, sering dipercaya untuk menjadi khotib saat sholat Jum’at. Pantas saja. Alm. Uak memiliki dua orang anak perempuan, yang pastinya lebih berpengalaman dalam merasakan didikannya yang keras. Aku yang paling tua diantara kedua sepupuku, dan aku yang paling lalai sholatnya.
       Memasuki semester dua, masih kelas satu SMP, kami sekeluarga pindah ke kota Bogor. Lalu ketika menginjak kelas satu SMA, aku memberanikan diri untuk tinggal bersama keluarga Uak di Bandung. Sementara kedua orangtuaku masih menetap di Bogor. Nah, ini pun menjadi saat terpintar dalam hidupku. Mengapa demikian? Karena, bersama ketiga anak-anaknya (tentu saja anaknya sudah bertambah satu), aku terbawa arus untuk rajin belajar. Rajin sekali. Dan setiap habis sholat Maghrib pun kami harus mengaji dengan suara yang keras. Sementara Uak mendengarkan dari luar kamar. Sehingga akan terdengar siapa yang tidak mengaji. Alhamdulillah aku sudah dibekali oleh kedua orangtuaku modal penting ini. Entah bagaimana nasibku di tangan Uak apabila belum lancar mengaji. Terima kasih, Ibu & Ayahku.
       Ini sedikit kisah di bangku kelas satu SMA. Aku sebangku dengan seorang perempuan bermata sayu dan pintar, Ratna namanya. Dalam belajar kami bersaing lumayan ketat. Hingga saat pembagian  raport semester pertama, teman sebangku ku itu  mendapatkan rangking satu, sedangkan aku dengan proses belajar yang menegangkan mendapatkan rangking dua. Begitupun ketika menginjak semester kedua. Ini adalah tahun gemilang di hidupku yang tak akan terlupakan. 
       Nah, selanjutnya adalah saat yang membahagiakan. Ketika menginjak kelas dua, aku berkumpul kembali bersama kedua orang tua yang akhirnya pindah juga ke Bandung. Otomatis kebebasan kembali merasuk ke dalam jiwaku. Walhasil, karena rasa takut yang semakin menumpul dan terbebas dari tuntutan nilai yang harus bagus, aku langsung mengalami degradasi rangking. Melonjak pesat keluar dari 10 besar.  It’s so dramatic. Hehe.
       Itulah sekelumit kisah tentang orang yang paling aku takuti dan telah membawa pengaruh besar dihidupku, terutama tentang pembiasaan sholat lima waktu. Jazakumullah khairan katsiiraa, Uak. Beliau pun menjadi tempat aku bertanya dan berdiskusi tentang hal apapun, terutama tentang ilmu-ilmu agama. Hanya doa yang bisa kulantunkan, saat ingatan tentangmu hadir dalam benak.
      


Minggu, 04 November 2012

Erotisme di Atas Panggung Hajatan Hingga Pembantaian di Atas Tuts Piano



         Minggu siang, 4 November, kami memenuhi undangan pernikahan dari seorang teman di daerah Sapan. Ketika tiba di lokasi, di panggung tampak sedang beraksi seorang biduan berdandan aduhai. Berbaju ketat dengan rok sepan hampir mendekati pangkal paha. Bisa dikatakan ini adalah salah satu kelainan pertumbuhan. Yang seharusnya tumbuh ke bawah, ini malah memendek ke atas. Mungkin juga ini merupakan salah satu efek gombalisasi.
Sesudah bersalaman dengan kedua pengantin, kami pun lalu menyantap makan siang di atas jajaran kursi yang berada tepat di depan panggung. Sembari makan, aku pun memperhatikan biduan tersebut beserta penari latar muka dadakan yang merupakan tiga orang pemuda, dengan usia sekitar 27-30 tahunan. Entah bapak di sebelahku, apakah memperhatikan atau menjaga pandangan. Aha. Makanan yang kukunyah terasa tidak jelas, antara tertelan dan tersedak. Karena meski sambil makan, mataku melotot, mengamati penuh tanda tanya. Pun musik terdengar sangat memekakkan telinga. Memperhatikan gerakan mereka di atas panggung, badan bergeal-geol seperti putaran jangka di atas kertas. Sebenarnya suaranya bagus, tetapi kenapa harus dengan gerakan seperti itu? Mengapa hanya tarian jangka itu saja yang digerakannya?
Begitupun kalau melihat hiburan di panggung pada acara khitanan. Selalu saja biduan-biduan berdandan seronok. Padahal yang dikhitan kan anak-anak? Apakah tidak lebih baik kalau yang ditampilkan adalah grup band anak-anak seperti Super Seven, dengan lagu-lagu berciri khas anak-anak? Beda lagi kalau yang dikhitan adalah laki-laki dewasa. Mungkin aku tidak akan banyak komentar. Hanya bergegas melemparkan bom molotov pada lokasi tersebut.
            Nah, berbeda dengan acara Konserto Piano pada Minggu sore kemarin. Sejak memasuki ruang Auditorium IFI, Jalan Purnawarman No. 32 itu suasana tampak syahdu. Dengan lampu temaram, jajaran rangkaian bunga, dan sebuah grand piano tertata di atas panggung. Baru memasuki ruangan pun sudah terasa aura elegan. Apalagi ketika satu per satu dari sembilan pianis usia sekolah dasar hingga sekolah menengah atas itu mempertontonkan kelincahan jemari mereka di atas tuts-tuts piano. Terdengar indah sekali, dengan memainkan komposisi musik dari Bach, Beethoven, Chaminade, F. Liszt, E. Grieg, A. Scriabin dan Chopin. Mulai dari yang bertempo lambat hingga bertempo sangat cepat. Wah, sungguh luar biasa. Keanggunan yang mencengangkan. Seolah terjadi pembantaian terhadap tuts piano yang tanpa henti. Indah sekali. Amaze
Gwyn Elisabeth Sutanto, juga bermain piano hanya dengan tangan kiri

Yang menarik adalah saat seorang pianis asal Bandung bermain piano hanya menggunakan tangan kiri. Setelah membaca tulisan seorang blogger, ternyata zaman dahulu Paul Wittgenstein yang juga merupakan seorang pianis, telah kehilangan lengan kanannya saat Perang Dunia I. Sehingga untuk melanjutkan karir di bidang musiknya ia meminta sejumlah komposer untuk menuliskan partitur yang diperuntukkan khusus bagi pianis yang hanya dapat menggunakan tangan kirinya saja. 
            Dari kedua jenis aksi panggung diatas, dapat direnungkan bahwa sesungguhnya untuk menghibur penonton dibutuhkan keterampilan dan keahlian yang maksimal dengan cara yang tepat. Namun bukan dengan mengekspos gerakan atau penampilan erotis, yang tidak pantas dipertontonkan di depan khalayak.

Rabu, 12 September 2012

Membaca Kepribadian Seseorang Melalui Irama Ketukan di Pintu


Pernahkah Anda mendengarkan secara seksama saat seseorang mengetuk pintu rumah Anda? Apa yang Anda rasakan saat itu? Apakah ketukan dari setiap tamu yang datang memiliki irama yang sama ataukah berbeda? Bagaimanakah suara ketukannya? Mari kita simak hasil pengamatan mendalam yang telah saya rasakan selama ini, sepanjang pintu rumah masih terpasang di tempatnya.
Ada beberapa tipe kepribadian yang berhasil saya kelompokkan. Ini semua berdasarkan pengamatan dan perasaan yang ditimbulkan dari suara ketukan tersebut. Yaitu:
1).  Satu ketukan mantap. Tok. Tok. Itu menandakan bahwa orang tersebut sangat berhati-hati dalam bersikap. Cenderung pendiam dan penuh perhitungan dalam tingkah dan lakunya. Tidak mau ikut campur urusan orang lain. Dan dipastikan merupakan tipe orang yang tidak menyukai acara gosip di televisi atau dimanapun. Melakukan apa yang dia anggap benar dan bermanfaat, meninggalkan segala bentuk kesia-siaan dalam hidup.
2). Ketukan mantap, dengan tekanan yang kuat, terburu-buru dan tanpa henti. Menandakan tipe orang yang suka terburu-buru atau ingin menyelesaikan segala sesuatu dalam waktu secepat mungkin. Gerak tubuhnya bagai menyatu dengan detik pada jarum jam dinding. Seolah dirinya adalah supir angkutan umum yang sedang mengejar setoran. Memiliki keyakinan yang kuat atas pengetahuannya meski terkadang masuk ke dalam kategori ‘sok tahu’. Dapat mengambil keputusan yang cepat dalam waktu singkat. Berjiwa pemimpin dan memiliki pengaruh yang kuat.
3). Ketukan dengan tekanan yang ringan, diiringi aneka sapaan salam. Menandakan orang tersebut memiliki hubungan yang akrab dengan sang pemilik rumah. Sedikit menyertakan rasa lapar dalam kunjungannya dan berharap mendapatkan suguhan makanan yang bisa memenuhi tuntutan perutnya.
4). Ketukan mantap, konsisten, percaya diri, dan pantang menyerah. Menandakan orang yang berkunjung memiliki tekad yang kuat untuk melaksanakan satu kehendak. Sehingga secara tidak langsung akan membuat tuan rumah merasa enggan untuk membukakan pintu, bahkan sanggup membuat rumah menjadi senyap dan lenyap dari pandangan mata dalam hitungan detik. Misalnya, suara ketukan para petugas RT saat menarik iuran warga di waktu yang kurang tepat, dan petugas PLN yang menagih bayaran yang tertunda.
5). Ketukan dengan sedikit sekali tekanan, disertai suara yang sangat halus. Menandakan tamu yang berkunjung memiliki ikatan masa lalu yang kuat atau memiliki dendam yang belum tersalurkan dengan tuan rumah. Namun jenis ketukan yang terakhir ini kemungkinan besar terdengar di malam hari, saat tengah malam ketika sang empunya rumah sedang tertidur lelap atau di saat sedang sendirian.

Itulah macam-macam ketukan yang bisa diterjemahkan menurut apresiasi saya. Lalu, termasuk ke dalam kepribadian manakah Anda?

Kamis, 06 September 2012

Ledakan di Ujung Pena

Sumpah aku pusing, dengan segala kecamuk yang tak henti melompat dan berdesakan di kepala. Seolah setiap unsur kimia berlomba untuk menyeruak ke permukaan kepala dan menjadi pemenangnya. Namun untuk setiap unsur, tak nampak jelas namanya bahkan berapa jumlah nomor atom yang dikandungnya. Tak kukenal apa itu namanya.

Sumpah aku pusing, untuk segala hal yang membuatku bahagia. Teman-teman sehobi, sejiwa, sevisi dan misi yang sanggup membuatku tersenyum bahagia. Bahkan, luapan bahagia pun mampu menjalarkan rasa panas di ubun-ubun.

Sumpah aku pusing, untuk segala hal yang membuatku lara. Namun, aku sanggup menyalurkannya lewat untaian tetes air dari kelenjar air mata, yang letaknya tersembunyi. Semisterius luapan perasaan yang bisa merangsang kelenjar itu untuk mengeluarkan air mata. Kumenyebutnya, air mata emosi.

Sumpah aku pusing, memilih dan memilah hal yang ingin kuungkapkan. Sedangkan semuanya telah memercik liar dari hati dan fikiran. Mengacaukan satu sama lain. Saling  memilin, memelintir dan berpaut seperti sepasang molekul DNA.

Sumpah aku pusing, untuk hal yang harus kulakukan namun belum kukerjakan. Hingga pembuluh aorta pun bergegas memompa darahku untuk menyalurkannya pada bagian tubuh yang harus bergerak terlebih dahulu. Namun, badanku membeku, ubun-ubunku mengepul dan kedua telapak tanganku mengusap kepala dengan kesepuluh jari meremas helaian rambut yang seolah ikut menegang. 

Lafadz Istighfar, adalah gerimis bagi ubun-ubunku. Hingga rintiknya menyelusup ke dalam pori-pori kepala, terus merembes tanpa henti, dan perlahan  menyapa relung hati. Mengingatkan.

Lalu membimbingku untuk mengambil sebuah pena, buku tulis putih berabjad 'm', membuka halaman yang masih kosong, dan melepaskan segala duri-duri tajam yang menancap di benak dan seluruh jiwa. Satu per satu.

Tuhan, aku bebas.


Sabtu, 04 Juni 2011

RESUME WORKSHOP MUSIKALISASI PUISI dan SEDIKIT BUMBU DISANA SINI

by Dhini Aprilio on Wednesday, June 1, 2011 at 7:45pm

Cerita Sedikit

            Selamat pagi, siang, sore, malam, Teman-teman. Izin share tulisan ya. Ini adalah hasil resume dari kegiatan Workshop Musikalisasi Puisi, yang saya ikuti pada tanggal 29 Juni 2011, bertempat di gedung Common Room, Bandung. Saya baru pertama kali mengikuti acara yang seperti ini. Menurut pendapat saya, acara ini sangat berbau sastra dan merupakan pengalaman yang pertama. Jujur, berkenalan dengan puisi pun baru setahun ini. Itu pun hanya berdasarkan curahan isi hati, ataupun dari melihat kejadian di sekitar. Tanpa ilmu atau teori sastra yang pasti tak terhitung banyaknya. Tapi namanya juga usaha, boleh-boleh saja kan ya? J

            Pertama kali berkenalan dengan dunia tulis menulis tepatnya bulan April tahun 2010 ketika mengikuti sebuah kursus 3 Jam Bisa Menulis untuk Ibu-ibu, di kota Bandung. Dan saat itu pun saya baru berkenalan dengan facebook. Jadi merupakan sarana yang tepat untuk latihan menulis bagi pemula. Awalnya saya tertarik pada puisi karena membaca status teman-teman yang ada di jejaring sosial tersebut. Meski sebenarnya saya sudah tertarik dengan puisi sejak zaman kuliah dulu. Tapi itu pun hanya sebatas puisi sederhana saja. Bukan Kahlil Gibran, Jalaluddin Rumi  ataupun penyair-penyair ternama lainnya. Ketertarikan saya hanya sebatas mengagumi bait-bait indah yang dihasilkan dari untaian kata-kata. Saya menganggapnya hal yang ajaib, dan dapat melihat kecerdasan seseorang dari kata-kata yang terangkai itu. Tapi itu dulu, sekarang saya tidak akan menilai tulisan seseorang berdasarkan apapun. Saya hanya merasakan ruh tulisan yang dapat dirasa, mencernanya dan menjadikannya warna di kehidupan.

Puisi dan Musik

            Kembali ke masa sekarang, tentang kegiatan workshop yang telah saya ikuti. Terus terang saya sangat bersemangat ketika akan mengikuti acara tersebut. Sehingga tidak sabar menunggu waktu segera bergulir ke hari Minggu itu. Tetapi ketika hadir di tempat itu, saya sangat kaget dan merasa takut. Karena disana tidak ada ibu-ibu yang selama ini telah akrab dengan kehidupan saya. Hanya ada laki-laki, lebih tepatnya manusia-manusia bergaya seniman. Rambut awir-awir, baju hitam, dan asap rokok yang berseliweran. Tapi setelah mendengar alunan musik dari para musisi Tegal dimainkan, akhirnya saya pun mulai lumer dan sangat  menikmati suasana, apalagi ketika ada teman-teman perempuan lain yang mulai berdatangan.          Setelah workshop dibuka oleh Kelompok Musik Sastra Warung Tegal (KMSWT), acara pun dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Kang Ferry Curtis. Beliau adalah musisi dari kota Bandung, yang telah lama berkecimpung dalam dunia musikalisasi puisi. Beliau telah mengeluarkan tiga album musikalisasi, dan sebentar lagi akan mengeluarkan satu album terbaru dengan salah satu judul Perempuan Masa Lalu. Sangat bagus liriknya dan sangat asik mendengarkan musiknya. Menyentuh, sehingga dapat mempengaruhi emosi peserta. Ya, disitulah kelebihan dari musikalisasi puisi. Puisi yang sebenarnya telah indah dan memiliki musik tersendiri, diperkaya lagi dengan iringan musik yang selaras dengan isi puisi tersebut. Sehingga membawa pengaruh yang luar biasa, sangat indah.

            Menurut teori yang telah saya dapatkan, musikalisasi adalah upaya untuk memasukkan unsur-unsur musik (melodi, irama/ritme, harmoni, yang diwujudkan dalam bentuk lembaran musik atau partitur) secara dominan. (Supratman Abdul Rani dkk, dalam makalah yang disampaikan oleh Ferry Curtis). Hal ini dimaksudkan agar dapat mengkomunikasikan isi puisi kepada apresian dengan baik, sehingga lebih mudah dimengerti dan dipahami. Karena pada umumnya masyarakat akan lebih cepat akrab dengan syair-syair dari puisi itu karena terbantu oleh nada-nada. (Ferry Curtis, 2011).  Hal ini pun dimaksudkan untuk membuka wawasan bagi apresian agar dapat mengapresiasi puisi dengan berbagai cara. Karena sebenarnya puisi itu sangat kaya akan makna. Misalnya saja selain dengan musik, puisi pun dapat diterjemahkan ke dalam bentuk lukisan, ataupun teaterikal. Itu semua tergantung dari imajinasi apresian. Selain itu musikalisasi puisi juga merupakan salah satu alternatif teknik penyajian puisi dalam pembelajaran sastra.

           Dan ternyata tidak semua puisi dapat dimelodisasi (menggunakan notasi). Misalnya puisi yang merupakan pidato atau percakapan. Sedangkan apabila puisi terdiri dari bait-bait dengan jumlah baris yang berpola, maka akan memudahkan komposer (penyusun musik) untuk membagi-bagi ke dalam pola birama tertentu. (Rene Wellek dalam Teori Kesusastraan). Kemudian dalam penggunaan tangganada minor pada umumnya dipakai untuk puisi-puisi atau lagu yang berjiwa melankolis, sendu, sedih, duka, pesimistis. Sedangkan lagu-lagu yang menggunakan tangga nada mayor kebanyakan bersemangat, optimistis, dan riang. (Metode Alternatif Pembelajaran Apresiasi Puisi, Yonas Suharyono, S.Pd,MM.Pd).

          Timbul pertanyaan, apakah pembacaan puisi yang diiringi oleh alat musik gitar, piano, ataupun alat musik ritmik lainnya termasuk musikalisasi? Menurut Kang Ferry Curtis, hal itu memang termasuk musikalisasi. Meski pada kenyataannya telah banyak musikalisasi yang berupa melodisasi puisi, yaitu merupakan kegiatan menyanyikan puisi total dengan memberi melodi, pola ritme, pemilihan jenis tangga nada, hingga pemberian rambu-rambu dinamik dan ekspresi pada puisi tertentu. (Metode Alternatif Pembelajaran Apresiasi Puisi, Yonas Suharyono, S.Pd,MM.Pd).

           Sesungguhnya apabila diperhatikan, tanpa dimusikalisasi pun puisi itu sudah memiliki musik tersendiri, dimana puisi terdiri dari unsur-unsur:
  1. Adanya diksi dan pemilihan bahasa (mencakup majas dan gaya bahasa).
Tetapi disini tidak akan dipaparkan secara detil. Hanya sepintas saja. Diksi, yaitu pemilihan kata yang secermat mungkin sehingga dapat mewakili maksud terselubung yang ingin disampaikan. Dengan adanya diksi pun dapat memperkaya kosakata para apresian. Meski terkadang hal ini dapat menjadikan puisi sebagai bahasa tulis yang memiliki tafsir makna beraneka ragam (Handoko F. Zainsam, Bermain dengan Puisi, dalam makalah yang disampaikan pada Pelatihan Menulis Puisi di “Rumah Pena”).

2. Memiliki kaidah estetika atau keindahan
Dimana pusi merupakan karya tulis yang memiliki berbagai konsep keindahan yang abstrak atau konkret. Sehingga melibatkan imaji para apresian untuk dapat merasakan makna yang tersirat dari puisi itu, sehingga dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan. Sedangkan maksud keindahan konkret yaitu. adanya efek bunyi dan bentuk dari tulisan puisi (tipografi). Seperti adanya kekuatan dari rima (persamaan bunyi di awal, tengah dan akhir baris puisi), ritme (tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi), dan metrum (pergantian naik turun suara secara teratur, lebih terasa ketika dideklamasikan). (Handoko F. Zainsam)

3. Ada pesan yang ingin disampaikan oleh penyair.
Baik itu tentang harapan, ungkapan perasaan, pesan, pemikiran penyair dengan melihat realita kehidupan. Cara penyair dalam mengungkapkan tema dan rasa juga berkaitan erat dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair itu sendiri (Sinyo Manteman, seperti ditulis dalam UPIL (Urusan rumPi ILmu) Puisi dengan Gayamu Season III: Unsur Dalam Puisi dan Majas)

Hal-hal tersebut diataslah yang menyebabkan puisi pun secara kodrati telah memiliki musik.  Puisi telah hadir dengan keindahan dalam wujudnya yang tunggal. Perbedaannya hanya terletak pada materi dasar pembentukan musik itu. Jika musik pada puisi dibentuk oleh kata dan komposisi kata, maka musik pada lagu dibentuk oleh nada dan melodi
Setelah memahami apa itu musikalisasi, pasti akan timbul pertanyaan lagi tentang bagaimana proses musikalisasi itu. Yang penting untuk diketahui pertama kali adalah, bahwa sang penyair harus menguasai cara memainkan alat musik yang akan dipakai. Baik itu gitar, piano, harmonika, biola, kecapi ataupun karinding. Kemudian memahami isi puisi dengan unsur-unsur pembentuknya. Sehingga dengan memahami secara baik isi puisi, seorang pemusikalisasi puisi tidak hanya sekedar memberi warna musik/ irama pada puisi yang dimusikalisasinya, tetapi juga dapat menampilkan ruh puisi itu secara utuh. (Ferry Curtis, 2011).

         Keberhasilan musikalisasi puisi pun dapat terlihat dari:
  1. Penafsiran sang komponis terhadap puisi yang digarapnya.
  2. Keberhasilan sang komponis dalam menggali dan menampilkan segala unsur musikalitas yang terdapat dalam puisi.
  3. Kemampuan sang komponis dalam mengimbangi kelemahan isi puisi, lewat pengisian unsur musikalitas yang diberikannya. Sehingga dapat membangkitakan daya tarik, daya ungkap, dan daya sentuh pada puisi yang digarapnya.
          Sedangkan langkah-langkah musikalisasi untuk pemula, yaitu:
  1. Memilih puisi yang dapat dimengerti.
  2. Memilih puisi dengan bait-bait yang sudah tersusun, dan memiliki bait yang  pendek (satu sampai tiga bait).
  3.  Mengaransemen melodi yang mudah dimainkan dan didengarkan.
  4. Membuat refrain yang berulang-ulang dan mudah dilagukan.
  5. Terus berlatih sampai Anda sendiri merasa tersentuh.
(Ferry Curtis, 2011).

           Pada kenyataannya musikalisasi ini masih menjadi pro dan kontra diantara para pakar. Sebaiknya kita lebih bijaksana dalam langkah-langkah memusikalisasikan sebuah puisi. Jangan sampai memaksakan totalitas puisi menjadi lagu, jika memang dapat merusak, bahkan menghancurkan puisi itu sendiri. (Raidu Sajjid 07.06.2008). 

            Demikianlah teman-teman yang dapat saya uraikan. Terima kasih atas perhatiannya dan semoga bermanfaat.

Aku dan Airmata

by Dhini Aprilio on Thursday, May 19, 2011 at 9:53pm

Bagiku, airmata adalah sahabat. Lebih tepatnya, kekasih.
Mungkin tampak berlebihan. Tapi begitulah. Tidak ada tabu diantara kami.

Ia selalu hadir saat kubutuh melepas gumpal sesak di relung jingga. Ia selalu siap menemani kapanpun saat kuingin melepas penat yang membebat. Ia selalu melapangkan dadanya untuk sekedar merengkuh dan mendengar detak jantungku apabila sedang carut marut. Tidak ada senjang diantara kami. Kami begitu terbuka dan apa adanya.

Terkadang begitu mudah menghadirkan ia di sudut mata hingga mengalir tanpa batas, melepasnya menuju laut lepas. Meski hanya sekedar membaca buku, menonton film, atau bahkan ketika sedang seminar, yang kebetulan membahas tentang peran seorang ibu. Dengan legowonya ia hadir di sudut mata, dan membasahi kedua pipiku yang seluas samudera.

Dan bila hatiku sedang carut marut, ‘tuk sekedar mempertanyakan tentang esensi hidup dan romantikanya. Dengan lembutnya ia akan membelai hatiku dan memberi penawarnya hingga sembuhkan luka.

Namun ada saat, ia tidak dapat hadir menemaniku dengan rinainya. Saat ketika saudara sepupuku meninggal, bahkan beberapa tahun yang lalu ketika uwa ku wafat. Begitu enggan ia memelukku dengan derainya. Ia hanya hadir, sesaat, di sudut mata. Bukan. Bukan aku tidak merasa pilu. Tapi sudut hatiku yang lain telah menerima dengan sebuah senyuman atas ketetapan itu. Suatu rasa percaya pada-Nya. Bahwa Dia telah memberikan waktu yang terbaik untuk umatnya. Hanya itu yang aku rasa. Dan ia pun sangat mengerti itu. Dan hanya berdiam diri di sudut mata.

Aku dan air mata. Akan selalu bersama dalam suka dan duka. Tadi sore, ketika akhirnya lipstik ‘special moment’ ku yang baru berumur dua hari patah! Patah, karena keluar dari saku celana dan terbanting di saat Jauna dan Zhafran berantem. Aku pikir itu tempat terbaik untuk ia (lipstik) agar terbebas dari rasa ingin tahu Jauna. Ternyata?

Sungguh. Sedih dan kecewa. Telah terjadi pemberantasan HAM terhadap diriku oleh anak-anak. Ya. Mungkin itu rasa yang konyol. Tapi itulah yang aku rasa. Saat dimana aku ingin menikmati milikku sendiri tanpa intervensi. Aku jadikan ini ajang pemahaman untuk sebuah konsep kepemilikan. Dan Jauna pun memahami itu. (Terima kasih, Sayang).

Tapi kembali ia membasahi pipi tanpa henti. Benar. Lagi-lagi ia menemaniku. Membiarkan aku melepas segala rasa yang mengganggu, dan mengendap sepanjang hari. Mungkin aku tidak sadar. Tapi ia, air mata, menyadarkanku akan sumbatan itu. Sumbat yang menghalangi hadirnya sebuah senyum tulus dari seorang bunda. Meski aku tetap berusaha untuk profesional, tetap meracik sajian nasi goreng untuk buah hatiku tercinta. (Dan tuntutan rasa lapar).  Ia, menemaniku dengan sedu sedannya. Dengan irisan bawang merah dan katel yang berbunyi mesra ketika beradu dengan pasangan jiwanya, serok.

Sekali lagi aku berterima kasih padanya. Air mata yang selalu berbicara, tentang aku dan kehidupan. Di saat mulut telah terjerat dan tersudut pada simpul-simpul verbalnya*.


Tepisetengahsunyi, 01900500011

*ngutip dikit dari novel The Smoke Jumper


Kamis, 19 Mei 2011

Cicak-cicak Itu

by Dhini Aprilio on Saturday, October 23, 2010 at 4:54am
 
Di suatu malam, ketika sedang asyik masyuk melipat baju-baju yang telah terpanggang matahari,
Zhafran, 7 tahun, sedikit berteriak.."Bunda, itu liat cicaknya kenapa?".
Langsung perhatianku beralih pada dua ekor cicak yang sedang jungkir balik di panggung eternit dalam sorotan lampu 25 watt.
*Oh, no! * kataku dalam hati. *Berpikir sebagai manusia dewasa*. Kulihat seekor cicak sedang menggigit-gigit ekor temannya. Entah mana yang jantan atau betina *kurang  paham. karena tidak tergambar dalam buku biologi sma ku di halaman 127 terbitan Erlangga*.
Dengan pikiran berkecamuk dan salah tingkah kujelaskan pada Zhafran, -dengan cicak yang tidak juga menghentikan aktifitasnya walaupun menyadari kalau ada raksasa di bawah umur sedang menyaksikan perbuatan mereka-, "Oooh..itu lagi berantem mungkin", kataku sambil mengusir 'mereka' setengah hati. *takut pamali. :)*
Tapi mungkin mereka memang sedang lupa daratan, sehingga mengabaikan kehadiranku sebagai satpol pp. *hhhmmmm..gimana nih*.
Eh..bukannya segera insyaf, mereka malah semakin merapat. Dan mungkin karena menyadari kalau ekor temannya bau', si cicak satu langsung memindahkan moncongnya pada tempat yang menurutnya agak harum *mungkin*. leher. *wadduh. harus diberi peringatan keras ini mah* Langsung dengan semangat memberantas kekurangsopanan kuambil buluh sebatang..eh..sebuah baju yang telah terlipat sangat rapi. dan.."Whooaaaaaaa..." kuusir tanpa ragu. sebelum terjadi hal-hal yang mereka inginkan di depan mata seorang anak kecil. Karena  bingung harus ngomong apa. Dan kocar kacirlah mereka tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan. kemudian terdengarlah lolongan tangis dari cicak betina. *mmm..betina memang lebai* Dan cicak jantan *sepertinya* karena emosi yang meluap padaku, mengeluarkan satu jurus andalan dengan melepaskan bom atom hitam putihnya yang sangat tersohor itu. *Eits..ngga' kena we' :p*  "hhmm..berhasil." *sambil mengusap peluh di ujung hidung*. Tapi namanya anak kecil memang selalu penasaran. Zhafran bertanya lagi,"Itu tadi kenapa cicaknya?".
"Mmm..mm masih berantem. Biar ekor temennya copot," kataku salah tingkah. *Sudah dong, Zhaf*. Masih dg  penasaran yang bertubi-tubi, Zhaf nanya lagi,"Tapi tadi ko'  lehernya digigit?" -sambil mempraktekkan dengan tangannya yang memegang leher-  *damn! kecolongan satu adegan* "Iya. Cicak juga buntutnya bisa copot loh kalau dicakar kucing..." -langsung aku alihkan dengan ceramah ilmiah tentang proses pelepasan ekor cicak bila dalam keadaan terancam. autotom i?-.. setelah puas dengan jawaban ibunya, Zhafran pun langsung melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda oleh sebuah pengetahuan baru. dan bunda pun senyum-senyum sendiri sambil memikirkan jawaban apa yang sebaiknya diberikan. :) *anak-anak memang sering membuat orangtua salah tingkah dan mati kutu dengan kepolosannya*



Aku dan Airmata

by Dhini Aprilio on Thursday, May 19, 2011 at 9:53pm
 
Bagiku, airmata adalah sahabat. Lebih tepatnya, kekasih.
Mungkin tampak berlebihan. Tapi begitulah. Tidak ada tabu diantara kami.

Ia selalu hadir saat kubutuh melepas gumpal sesak di relung jingga. Ia selalu siap menemani kapanpun saat kuingin melepas penat yang membebat. Ia selalu melapangkan dadanya untuk sekedar merengkuh dan mendengar detak jantungku apabila sedang carut marut. Tidak ada senjang diantara kami. Kami begitu terbuka dan apa adanya.

Terkadang begitu mudah menghadirkan ia di sudut mata hingga mengalir tanpa batas, melepasnya menuju laut lepas. Meski hanya sekedar membaca buku, menonton film, atau bahkan ketika sedang seminar, yang kebetulan membahas tentang peran seorang ibu. Dengan legowonya ia hadir di sudut mata, dan membasahi kedua pipiku yang seluas samudera.

Dan bila hatiku sedang carut marut, ‘tuk sekedar mempertanyakan tentang esensi hidup dan romantikanya. Dengan lembutnya ia akan membelai hatiku dan memberi penawarnya hingga sembuhkan luka.

Namun ada saat, ia tidak dapat hadir menemaniku dengan rinainya. Saat ketika saudara sepupuku meninggal, bahkan beberapa tahun yang lalu ketika uwa ku wafat. Begitu enggan ia memelukku dengan derainya. Ia hanya hadir, sesaat, di sudut mata. Bukan. Bukan aku tidak merasa pilu. Tapi sudut hatiku yang lain telah menerima dengan sebuah senyuman atas ketetapan itu. Suatu rasa percaya pada-Nya. Bahwa Dia telah memberikan waktu yang terbaik untuk umatnya. Hanya itu yang aku rasa. Dan ia pun sangat mengerti itu. Dan hanya berdiam diri di sudut mata.

Aku dan air mata. Akan selalu bersama dalam suka dan duka. Tadi sore, ketika akhirnya lipstik ‘special moment’ ku yang baru berumur dua hari patah! Patah, karena keluar dari saku celana dan terbanting di saat Jauna dan Zhafran berantem. Aku pikir itu tempat terbaik untuk ia (lipstik) agar terbebas dari rasa ingin tahu Jauna. Ternyata?

Sungguh. Sedih dan kecewa. Telah terjadi pemberantasan HAM terhadap diriku oleh anak-anak. Ya. Mungkin itu rasa yang konyol. Tapi itulah yang aku rasa. Saat dimana aku ingin menikmati milikku sendiri tanpa intervensi. Aku jadikan ini ajang pemahaman untuk sebuah konsep kepemilikan. Dan Jauna pun memahami itu. (Terima kasih, Sayang).

Tapi kembali ia membasahi pipi tanpa henti. Benar. Lagi-lagi ia menemaniku. Membiarkan aku melepas segala rasa yang mengganggu, dan mengendap sepanjang hari. Mungkin aku tidak sadar. Tapi ia, air mata, menyadarkanku akan sumbatan itu. Sumbat yang menghalangi hadirnya sebuah senyum tulus dari seorang bunda. Meski aku tetap berusaha untuk profesional, tetap meracik sajian nasi goreng untuk buah hatiku tercinta. (Dan tuntutan rasa lapar).  Ia, menemaniku dengan sedu sedannya. Dengan irisan bawang merah dan katel yang berbunyi mesra ketika beradu dengan pasangan jiwanya, serok.

Sekali lagi aku berterima kasih padanya. Air mata yang selalu berbicara, tentang aku dan kehidupan. Di saat mulut telah terjerat dan tersudut pada simpul-simpul verbalnya*.


Tepisetengahsunyi, 01900500011

*ngutip dikit dari novel The Smoke Jumper

Selasa, 17 Mei 2011

Kumang328

by Dhini Aprilio on Tuesday, December 28, 2010 at 12:44am
 
entah kali keberapa kedua kumang itu menapaki celah bebatuan yang berbaris rapi di sepanjang pantai selatan

angin musim barat yang menghantam tubuh ringkih mereka tak jua membuat keduanya tersungkur hingga mencium hamparan pasir yang berdesakkan

mereka saling berpegangan erat, menautkan jemari dengan rasa percaya

akhirnya, setelah terpaan angin mereda
mereka pun berhasil menjejakkan kaki-kaki mungil yang meronta-ronta pada halaman istana yang telah berdiri bertahun silam

dengan melompat kegirangan dan imaji penuh harap, kedua kumang itu memasuki pintu gerbang yang telah terbuka
senyum mengembang di kedua bibir kisut mereka
dua pasang mata mereka bersinar melihat sekumpulan abjad yang tersusun pada selembar perkamen bertuliskan:

“Selamat datang pengertian yang mencerahkan dan pemahaman yang mengekalkan. Ingatlah, sebelum bumi diratakan.”




Indahnya Kebersamaan..

by Dhini Aprilio on Monday, February 14, 2011 at 3:57pm
 
Pernikahan adalah kata yang tidak asing untuk didengar. Banyak orang yang berdiri daun telinganya ketika mendengar kata menikah. Terutama bagi kalangan remaja dan orang dewasa yang belum pernah menikah. Sementara bagi yang telah menikah, kata itu sangat biasa bahkan ada pula yang menyangsikan makna sakralnya. Hal itu disebabkan karena mereka telah merasakan bagaimana romantika pernikahan itu beserta lika-likunya.

Pernikahan bagaimanapun telah masuk ke dalam daftar impian bagi semua orang yang telah menemukan pasangan jiwa. Dimana pasangannya itu telah berhasil menjinakkan degup jantung yang berdebar tak menentu. Sehari tak bertemu pun terasa menyesakkan dada. Bagaikan semenit tanpa menghirup oksigen. Hayalan berbunga indah untuk hidup bersama selamanya memenuhi rongga di kepala. Ingin selalu bersama sang penyejuk hati menghabiskan waktu selamanya sehidup semati. Selalu bersama dengan segala aroma keindahan.

Berhari, berminggu, bulan dan bahkan tahun tak pernah henti mengidamkan dan memimpikan ingin segera terwujudnya sebuah pernikahan. Bahkan ada yang nekat melarikan diri dari rumah orangtua demi mewujudkan keinginannya itu. Semua menganggap pernikahan adalah hal yang indah untuk diraih dan dirasakan. Semua orang berlomba-lomba ingin menggapainya. Tetapi ada pula yang tidak menginginkan terjalinnya suatu pernikahan. Karena menganggap pernikahan adalah suatu hal yang sakral dan mengikat. Sehingga mereka khawatir dengan menikah akan menyebabkan kebebasan menjadi terbelenggu.

Setelah menikah apakah yang semua orang idam-idamkan akan terwujud? Bagi sebagian orang ada yang segera dapat mewujudkan khayalan indah mereka tentang pernikahan, bahkan jauh lebih indah dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya. Tetapi untuk sebagian lagi terpaksa menelan kepedihan dan membuang khayalan indahnya. Karena mimpi buruk yang mengunjungi mereka, bahkan lebih buruk dari yang pernah melintas melalui mimpi-mimpi malam.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa di awal tahun pernikahan gelombang uji dan coba pasti akan mendatangi mahligai rumah tangga. Ternyata ada pula yang tenang menjalani kehidupan di awal tahun pernikahan. Tetapi ada pula yang gelombang ujiannya merapat pada kehidupan pernikahan mereka di tahun-tahun kesepuluh, dua puluh bahkan sampai usia pernikahan senja. Gelombang ujian itu akan berulang kembali datang menghampiri, mengombang-ambing biduk rumah tangga. Meski terkadang kita tidak menyadari bahwa kenikmatan dan kesulitan hidup yang kita rasakan itu adalah sebuah ujian.

Kita menyadari suatu keadaan yang kita rasakan itu adalah sebuah ujian, bila yang menghampiri kita adalah sebuah kesulitan. Hingga kita merasakan penat membelenggu dan sepercik putus asa menghantui. Sementara bila kita merasa senang dan bahagia, dan mendapatkan segala apa yang diinginkan, kita akan segera lupa diri. Seperti sebuah ayat yang berbunyi “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji?” (Q.S. Al Ankabut 29: 2).

Pernikahan dengan segala romantikanya akan terasa indah bila kedua pasangan yang menjalaninya seia sekata, kompak, saling menghargai, menghormati, dan satu pemahaman. Karena dalam kehidupan berumah tangga tidak jarang perbedaan-perbedaan yang ada menimbulkan konflik atau perselisihan. Sehingga semakin memicu pertengkaran dan bahkan apabila kedua pasangan tidak memiliki kematangan dalam berfikir, dapat menimbulkan pertengkaran yang mengancam keberlangsungan mahligai rumah tangga. Naudzubillah. Semoga Allah selalu membimbing kita dalam mengarungi samudera kehidupan ini. Aamiin.

Sebuah pernikahan akan terasa indah bila diantara kedua belah jiwa terjalin komunikasi yang jujur, terbuka dan apa adanya, mau mendengarkan curahan hati pasangannya dengan penuh perhatian, hati lapang dan fikiran yang terbuka sehingga tidak akan menimbulkan kesalahan persepsi/salah sangka, tidak saling menyalahkan (blaming partner), dan berbicara dengan lemah lembut.

Semua teori tentang pernikahan bisa kita baca dan pelajari dimanapun, kapanpun dengan cara apapun. Baik dengan mendengarkan ceramah atau kajian-kajian tematik yang khusus membahas tentang kebahagiaan dalam rumah tangga. Semua hal itu dengan mudah kita pelajari. Hanya dalam pelaksanaannnya tentu tidak semudah mempelajarinya. Semua akan terpahami dengan pengalaman.

Setiap orang pasti pernah merasakan manis pahitnya hidup dalam berkeluarga. Bertahun-tahun hidup bersama, pasti rasa bosan dan jenuh pernah mendera. Disinilah letak pentingnya komunikasi. Karena diharapkan dengan komunikasi kedua belah jiwa dapat mengemas dan membuat kebersamaan mereka menjadi hal yang seru dan mengasyikkan.
Meski terkadang ada hal-hal yang tidak dapat diceritakan dengan jujur kepada pasangan. Mungkin kita merasa nyaman bila membicarakannya dengan sahabat kita. Tetapi sebaiknya sahabat yang kita pilih adalah yang sama jendernya dengan kita, agar tidak menimbulkan hal-hal lain yang tidak diinginkan. Dan diharapkan sahabat kita itu adalah sahabat yang bisa mengingatkan di kala kita lalai dan selalu mendukung perbuatan baik yang kita lakukan.

Pernikahan itu tidak mudah memang. Selalu saja ada hal-hal yang dapat mengikis rasa sayang dan hormat antara satu sama lain. Karena pada setiap insan telah melekat dua warna, yaitu kelebihan dan kekurangan. Sebaiknya kita syukuri apapun yang dianugrahkan dari Allah. Kita syukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki pasangan kita masing-masing.
Ada nilai yang sering kita lupakan. Yaitu, kebersamaan. Kebersamaan adalah hal paling istimewa yang kita miliki dalam hidup. Bersyukurlah kita masih bisa bersama pasangan meski terkadang harus dibumbui dengan pertengkaran-pertengkaran kecil. Alangkah baiknya bila terjadi suatu pertengkaran, salah satu dari pasangan dapat menahan diri agar tidak terjadi adu mulut dan ketegangan yang berlanjut di kedua belah pihak. Sentuh dan rengkuhlah. Agar kedamaian segera mengalir pada jiwa-jiwa yang terbakar. Ingatlah, arti seseorang akan terasa bila telah tiada.

(terima kasih untuk Rama Rock&Roll yang selalu sabar, percaya dan tidak pernah mengeluarkan amarahnya selama ini. Maafkan atas segala dosa-dosa yang tidak dapat disebutkan satu persatu)..

u.p.  note ini di buat untuk mengingatkan diri sendiri agar selalu ingat akan apa yang telah ditulis.. semoga bermanfaat dan menyelamatkan.. aamiin..