Tampilkan postingan dengan label report... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label report... Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Maret 2013

Catatan Perjalanan 1 (Soreang, Kabupaten Bandung - Yogyakarta, 20 - 23 Maret 2013)

Rabu, 13 Maret 2013
    Sepucuk surat datang untuk TBM Dhido dari BAPAPSI (Badan Perpustakaan, Arsip dan Pengembangan Informasi) Kabupaten Bandung. Perihal Bimbingan Teknis Perpustakaan dan Kunjungan Perpustakaan ke Taman Bacaan Masyarakat Iboekoe dan Perpustakaan Daerah Kota Yogyakarta. Alhamdulillah bahagia tak terkira. Sebut saja, rezeki nomplok di siang bolong. Langsung terbayang proses perizinan yang sulit dengan anak-anak. Dua rasa yang berkecamuk, bahagia dan tidak tega harus meninggalkan mereka.

Hotel Antik, Soreang, Rabu, 20 Maret 2013
      Setelah berhasil melewati perundingan alot dengan anak-anak, akhirnya berhasil juga membujuk mereka untuk mengikhlaskan kepergian saya. Meski dengan satu syarat, sebuah janji yang harus ditepati sepulang dari Yogyakarta nanti. Saat check in di Hotel Antik  jam 12.00 WIB, anak-anak pun turut mengantar. Mereka sangat menikmati fasilitas kamar hotel dengan nomor 109 yang saya tempati bersama  Ibu Nunung, seorang Ibu Lurah dari salah satu desa di Kecamatan Rancaekek.
    Dengan menenteng sebuah tas abu-abu berisi binder, pulpen, dan materi pelatihan, saya memasuki ruangan tempat Bimtek dilaksanakan. Dan segera terdengar pula suara merdu berkumandang, dari seorang relawan Sudut Baca Soreang, bernama Windi Almeta.
     Acara dimulai dengan pemberian materi pertama oleh Pak Agus Munawar, berjudul Berbagai Metode Penyuluhan Kampanye Budaya Baca. Di tengah pemberian materi, diselingi oleh pembukaan acara Bimtek oleh Kepala Bapapsi, Bapak Diar Irwana, SH. Hal ini terjadi karena keterlambatan beliau yang disebabkan oleh sesuatu dan lain hal. Lalu berlanjut ke materi terakhir, yaitu Rancangan Program Kerja 2013 Relawan TIK Kab. Bandung yang disampaikan oleh Kang Nurfajar Muharom.

      Bimtek hari pertama selesai pukul sembilan malam. Dilanjutkan dengan istirahat, karena keesokan harinya semua peserta akan memulai perjalanan field trip ke kota Yogyakarta.

Kamis, 21 Maret 201. Perjalanan dimulai..
    Kami memulai perjalanan sekitar pukul delapan pagi dengan mengendarai bis Pakar Utama 8 sebanyak dua bis. Rombongan ini dipandu oleh sebuah Event Organizer, Lintas Cakrawala dengan Tour Guide nya bernama Pak Yoyok.
    Setelah melewati perjalanan panjang sekitar 14 jam, dengan beberapa kali berhenti untuk makan siang, sholat, dan makan malam. Kami tiba di Hotel Abadi Yogyakarta, pukul 22.00 WIB. Semua peserta langsung check in dan memasuki kamar yang ditempati oleh tiga orang.
    Malam pertama di Yogyakarta sangat mengesankan, dengan fasilitas yang memuaskan ditambah dengan kehadiran dua orang teman yang menyenangkan (teh Elis dan Windi, keduanya merupakan  relawan Sudut Baca Soreang).

Jum’at, 22 Maret 2013. Mereka sebut itu sebagai Kunjungan Dinas..
    Setelah malamnya mendapat penerangan dari Tour Guide, tentang morning call dan sarapan di hotel mulai pukul enam, kami pun dengan sigap bersiap sepagi mungkin.
    Pukul 09.00 WIB Kami meluncur ke Perpustakaan Daerah Yogyakarta. Disambut dengan pemotretan selamat datang oleh beberapa orang fotografer. Tampak pemandangan menarik yang disuguhkan disana. Mulai dari Cafenet di halaman luar, bank buku di depan pintu masuk perpustakaan, hingga pojok Blind Corner, yang disediakan khusus bagi penyandang tuna netra. 


    Acara dibuka oleh Kepala Bapusipda Yogyakarta, Ibu Sri Adianti. Lalu berlanjut dengan dialog dan tanya jawab antara peserta dan pengelola perpustakaan tersebut. Banyak program atraktif yang mereka tawarkan dengan konsepnya Perpustakaan yang Dinamis.    
Diantara program-programnya adalah:
1.    Diskusi buku sebulan sekali.
2.    Diskusi komunitas, dimana setiap komunitas yang ada difasilitasi untuk berdiskusi tentang segala hal yang berkaitan dengan komunitas mereka.
3.    Lomba bercerita siswa SD.
4.    Liburan di Perpustakaan Kota.
5.    Asyiknya membuat film (story board, editing, dll).
6.    Gladhen Basa Jawa (dimana sasaran program ini adalah aparat kelurahan, sehingga diharapkan dalam memberi sambutan-sambutan pun dapat menggunakan bahasa Jawa).
7.    Berhari minggu di Perpustakaan kota
8.    Sosialisasi Bansos TBM.
9.    Ramadhan di Perpustakaan Kota.
10.    Forkom (dimana Perpustakaan Kota, Kabupaten, dan Provinsi saling sharing).
11.    Bank buku Jogja, yang merupakan satu-satunya yang ada di Indonesia. Program ini telah berjalan selama dua tahun.
12.    Bulan Buku Jogja.
13.    Kunjungan dari sekolah-sekolah.
14.    Jogja night reading (khusus hari Sabtu dan Minggu dimana perpustakaan tutup jam 8 malam).
Sungguh merupakan proses kreatif yang sangat cerdas, karena selain lokasi yang strategis dekat dengan Kampus UGM, mereka pun sanggup menarik masyarakat banyak dari segala umur untuk datang berkunjung dan beraktifitas di Perpustakaan tersebut.


      Setelah memberikan cinderamata, perjalanan pun berlanjut ke TBM Gelaran Iboekoe, bertempat di Jalan Patehan Wetan No. 3 Alkid, Yogyakarta, dimana pemiliknya adalah Muhidin M Dahlan yang kerap dipanggil Gus Muh. Di TBM ini kami melihat sebuah tempat sederhana yang memiliki banyak sekali koleksi buku, dengan interior yang unik. Juga ada sebuah studio radio. Yang unik dari TBM Iboekoe adalah konsep pengelompokkan buku-buku yang berdasarkan Sumpah Pemuda. Ada kelompok Tanah Air, yaitu buku – buku khusus tentang teritori. Kelompok Bahasa, yaitu tentang sastra, novel dan ilmu linguistik. Juga ada kelompok bangsa, yaitu tentang sejarah dan biografi. Juga banyak keranjang berisi buku anak-anak.


     Malam harinya diadakan evaluasi tentang kunjungan hari itu. Selain permainan Dinamika Kelompok yang dipimpin oleh Kang Agus Irham, seluruh peserta pun berdiskusi tentang kesan, pesan, serta harapan-harapan ke depan yang akan diterapkan di Taman Bacaan Masyarakat atau Perpustakaan di lingkungan masing-masing. Setelah acara selesai, saya bersama beberapa teman, menikmati suasana malam dengan berjalan kaki sembari memotret beberapa lokasi di sepanjang jalan Malioboro.


Sabtu, 23 Maret 2013. Akhir Perjalanan..
    Setelah sarapan, semua peserta diberi kesempatan untuk menikmati suasana Kota Yogyakarta. Ada yang berbelanja, berkunjung ke Kraton Yogyakarta, ke Museum Benteng Vredeburg atau hanya sekedar berkeliling saja dengan duduk manis di atas becak.
    Jam sebelas kami check out dari hotel, lalu melanjutkan perjalanan ke toko batik Gunawan dan makan siang di Rumah Makan Orang Utan. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Candi Borobudur sekitar 15 menit.
    Sebelum memasuki Candi Borobudur kami terlebih dahulu harus memakai sarung yang telah disediakan di pintu masuk. Ini disebut sebagai sarungisasi. Pemandangan di Candi Borobudur sangat indah, ditambah dengan jajaran gunung di kejauhan, gumpalan awan yang tampak sangat memukau. Hanya satu setengah jam saja kami menikmati suasana Candi Borobudur. Pukul 17.30 WIB kami harus melanjutkan perjalanan pulang. Sampai di Bandung, yaitu sekitar pukul 06.30 WIB.

    Semoga perjalanan berharga yang telah dilewati, dapat menjadi motivasi untuk selalu melakukan yang terbaik, demi mengkampanyekan semangat membaca di lingkungan sekitar, hingga dapat meningkatkan kecerdasan diri dan masyarakat. Aamiin..

Kamis, 20 Desember 2012

CITARUMKU

Sungai Citarum (Sumber Gambar: Google)

Berawal dari perjalanan menuju Soreang, ibukota Kabupaten Bandung beberapa hari yang lalu, dengan menyusuri aliran sungai Citarum. Membayangkan alangkah asyiknya bila sungai sepanjang 273 km ini, yang merupakan sungai terpanjang di Jawa Barat, menjadi objek wisata sungai. Sebagai jalur alternatif transportasi seperti di Sungai Musi, Sumatera Selatan, atau berfungsi sebagai pasar terapung seperti di Sungai Martapura, Kalimantan Selatan. Bila itu terwujud, maka tidak akan ada lagi image bahwa sungai Citarum adalah sungai paling tercemar di dunia. Juga dapat dipastikan bahwa masyarakat tidak akan resah bila musim hujan datang, akan berkurangnya kemacetan di jalan raya, dan kehidupan ekonomi mayarakat pun akan semakin meningkat.
Banyak hal yang telah dilakukan oleh BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Citarum untuk menyelamatkan sungai Citarum dari keterpurukannya. Seperti pengerukan dasar sungai, pembuatan terasering, hingga membuat tanggul pembatas antara sungai dan daratan. Selain itu, dengan membuat kolam penampungan air di Baleendah yang berfungsi untuk menampung genangan air. Namun akan lebih efektif lagi apabila industri yang ada melakukan  pencegahan  seperti harapan dari Greenpeace dan Walhi, yaitu dengan menggunakan bahan yang tidak mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) dan mendorong industri menuju sistem produksi bersih. Walhi pun mengharapkan adanya kerjasama dari masyarakat agar hanya mau menerima produk dari pabrik yang benar-benar sudah sehat dan dalam proses produksinya tidak mencemari dan meracuni sungai.
Untuk mewujudkan impian itu dibutuhkan kerjasama yang solid antara pemerintah daerah dan provinsi dengan pihak pengelola industri. Juga harus ada ketegasan dari pemerintah terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh pihak industri yang mengancam kelestarian lingkungan. Selain itu yang perlu dibina dalam mayarakat adalah membiasakan diri sejak dini untuk selalu hidup bersih, dengan membuang sampah di tempatnya.  Sehingga akan terbentuk karakter positif dalam setiap individu, yaitu kemampuan berpikir dan bersikap untuk tidak mengotori lingkungan dengan bahan-bahan yang tidak dapat terurai (persisten). Karena hal ini menjadi penyebab rusaknya alam, dan akan terakumulasinya logam berat dalam tubuh hingga menyebabkan timbulnya gangguan kesehatan.

Sabtu, 27 Oktober 2012

Shock Therapy ke Ranca Buaya

            Dalam rangka menjadi tour guide keluarga adik dari Jakarta, yang ingin menghabiskan waktu liburan di Bandung, kami mengusulkan beberapa lokasi untuk menjadi tempat wisata. Setelah berdiskusi akhirnya kami memutuskan untuk mengadakan perjalanan ke Ranca Buaya, dengan alasan ingin memperlihatkan suasana pantai kepada kedua anak perempuannya yang masih balita dan ingin menikmati suasana sejuk dengan panorama yang indah. Daripada berwisata ke pusat kota Bandung ataupun ke kawasan Bandung Utara yang dapat dibayangkan betapa macetnya di saat long week end seperti ini, karena bertepatan juga dengan liburan Idul Adha. 

          Kami start dari Banjaran, kabupaten Bandung, sekitar jam 10 pagi.  Melewati terminal Banjaran, kendaraan padat merayap, membuat perjalanan tersendat sekitar 20 menitan. Lalu perjalanan berlanjut menuju Pangalengan. Dari pertigaan mendekati terminal Pangalengan, kami belok ke kanan dan terus melaju ke arah Taman Wisata Situ Cileunca. Dari kejauhan, terlihat ramai juga pengunjung di Situ Cileunca. Ada yang mendirikan tenda, juga tampak perahu karet untuk arung jeram. Kami pun dapat menghirup udara segar dan melihat pemandangan indah di kiri kanan jalan. Kesejukkan yang mulai jarang didapatkan di perkotaan. 
           Kami melewati Perkebunan Teh Cukul. Seperti permadanai hijau yang terhampar ratusan hektar. Jalan yang kami lewati beraspal dan sangat mulus. Di beberapa tempat tampak beberapa pekerja sedang memperbaiki jalan. Juga terdapat gundukan pasir dan bebatuan, namun tidak mengganggu. Ternyata Pemerintah Provinsi Jawa Barat sedang mengadakan proyek pembangunan infrastruktur Jalan Jawa Barat Bagian Selatan untuk memajukan kawasan selatan yang cenderung masih kurang terperhatikan. Sehingga diharapkan ke depannya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.

Hamparan Kebun Teh
Pabrik Pengolahan Teh Hitam
Vila Cukul
            Dari ketinggian 1600 m dapl kami dapat melihat betapa dahsyatnya proyek yang sedang dikerjakan. Seolah-olah membelah perbukitan hijau. Di satu sisi kami memandang proyek ini merusak ekosistem alam, namun di sisi lain kami menganggap ini sebagai langkah untuk membuat Jawa Barat bagian Selatan menjadi lebih maju lagi dengan sarana infrastruktur yang mendukung. Sehingga diharapkan juga dapat memajukan sektor pariwisata di Jawa Barat yang memang kaya akan sumber daya alam.
               Setelah satu jam perjalanan yang mulus, kami mulai memasuki wilayah Talegong, Kabupaten Garut. Disini tampak jalan belum selesai dibangun. Jalanan pun masih berpasir, banyak kendaraan berat di wilayah ini. Memasuki wilayah ini penumpang mulai gelisah, kedua balita sudah mulai muntah-muntah. Karena tidak terbiasa mengadakan perjalanan jauh. 

Stum Perkasa
Jalan Tanah
Jalan yang Sedang Dibangun



Salah Satu Jembatan Penghubung
     Semakin jauh kami berjalan, maka semakin menggila pula track perjalanan yang kami lewati. Jalan berpasir dengan lebar 4 meter, dengan kiri dan kanan jurang, juga bukit pasir yang besar kemungkinan dapat longsor. Dengan tanjakan-tanjakan tajam yang sanggup membuat sport jantung. Memang kami bukan para adventurer sejati yang bermental baja. Kami tidak membayangkan bahwa rute yang kami lalui akan sepanjang dan nge-rock seperti ini. Namun tak perlu khawatir, karena jalan berpasir ini hanya ditemui sepanjang 1 km saja. Selanjutnya jalan kembali mulus. Melewati beberapa buah jembatan dengan sungai kecil penuh bebatuan di bawahnya. Lalu kami melewati hutan, juga masih dengan belokan tajam dan tanjakan curam. 
Pantai Ranca Buaya dari Atas Bukit
            Memasuki wilayah Cisewu kami disuguhi pemandangan alam pedesaan yang menawan, hamparan sawah berundak mengingatkan pada lukisan alam bergaya natural yang banyak dijumpai di galeri seni jalan Braga. Nampak rumah-rumah penduduk dilembah yang dibelah oleh aliran sungai yang masih jernih airnya, sungguh memberikan suguhan pemandangan tak tergantikan. Setelah melewati Sukarame, kami memasuki wilayah Caringin. Dari kejauhan pun pemandangan sudah tampak sangat indah. Seolah –olah kami ada di atas bukit dengan garis pantai dan buih ombak memutih dikejauhan.  Terbayar sudah lelah kami di perjalanan. Perjalanan ini kami tempuh selama 3,5 jam tanpa istirahat, kecuali ketika berhenti untuk membeli kantong plastik buat muntah. 
Anak-anak Bermain Di Sekitar Batu Karang
            Di pintu gerbang Pantai Ranca Buaya kami membayar tiket masuk sebesar tiga ribu rupiah per orang. Kami  hanya bermain sebentar saja, kira-kira 20 menit, di tempat yang terdapat banyak  batu karang, sehingga air laut tidak sampai ke tempat anak-anak bermain. Hanya sebatas mata kaki saja. Pemandangan batu karang pun sangat indah. Namun sayang dicemari oleh sampah yang berserakan di beberapa tempat. Sebenarnya ada lokasi yang dapat dipakai untuk berenang, tetapi terhalang oleh ratusan perahu nelayan yang sedang bersandar. Secara keseluruhan, pemandangan pantai memang indah, namun fasilitas yang lain seperti tempat penginapan dan wisata kuliner kurang menggiurkan. Lebih terkesan kumuh dan tidak terawat. Ada juga tempat pelelangan ikan dan pemukiman penduduk yang lumayan padat.
            Jam 02.30 kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Santolo dengan tujuan untuk mencari tempat makan siang. Dari Ranca Buaya ke Pantai Santolo kami melewati Pantai Cigalobak. Dikiri kanan jalan tampak hamparan lahan kosong. Pada zaman era Presiden Soeharto, di kawasan ini merupakan perkebunan sawit milik anaknya, Tommy Soeharto. Karena banyak terjadi penjarahan, lama kelamaan luas perkebunan sawit pun semakin berkurang dan beralih fungsi menjadi lahan pertanian milik rakyat. Di kejauhan tampak punggung-punggung bukit yang juga menambah keindahan panorama. Jalanan beraspal dan mulus. Selain itu kami melewati banyak muara sungai. Dengan pemandangan sepanjang garis pantai yang indah, membuat ingin menepi kembali dan menginjak pasir pantainya. 
Stasiun Peluncuran Roket
            Akhirnya setelah 1 jam perjalanan kami sampai juga di Pantai Santolo, dengan membayar tiket masuk sebesar tiga ribu rupiah per orang. Sekitar lima ratus meter sebelum lokasi, kami menjumpai kawasan Stasiun Peluncuran Roket milik Lapan. Di Pantai Santolo ini tampak lebih ramai dan hidup wisata kulinernya. Juga terdapat tempat pelelangan ikan. Setelah menemukan tempat yang nyaman, kami memasuki rumah makan dengan pemandangan langsung ke tepi pantai. Sangat indah sekali. Namun sayang kulinernya tidak selezat yang kami bayangkan, dengan pelayanan yang kurang ramah.
Pantai Santolo di Senja Hari
            Apabila diperhatikan, bentuk ombak di pantai Santolo ini agak aneh, seperti berlapis-lapis. Agak seram juga melihatnya. Pola deburan ombak yang tampak di pasir putihnya berbentuk kerucut, bukan garis lurus. Arusnya lumayan deras. Karena merupakan pertemuan dari beberapa arah gelombang. Pasirnya putih bersih. Namun, entah mengapa, di tepian kira-kira dua ratus meter dari bibir pantai terdapat banyak pecahan botol yang seolah-olah disebarkan begitu saja. Setelah menghabiskan makan sembari mendengarkan suara debur obak yang menderu, kami melanjutkan perjalanan pulang menuju kota Bandung tercinta.
            Sebelum semakin jauh melaju, kami mengisi solar terlebih dahulu di SPBU terdekat di Pameungpeuk. Karena kami tidak akan menemukan lagi SPBU kira-kira 30 km hingga kami mencapai wilayah Cikajang. Karena waktu telah menunjukkan pukul 17.30 WIB, kami hanya berpapasan dengan beberapa kendaraan dan motor. Jalanan tampak lengang. Sepanjang jalan Pameungpeuk hingga Cisompet jalan pun beraspal dan sangat mulus.  Selepas Cisompet kami memasuki perkebunan teh Neglasari. Bila perjalanan dilakukan siang hari, akan tampak air terjun di kejauhan, lalu kami mulai memasuki kawasan hutan. Disekitar kawasan Cihurip kami sampai di suatu daerah yang berkabut sangat tebal sepanjang 100 meter, menyebabkan jarak pandang berkurang sehingga lampu hazard mobil harus dinyalakan. Selepas itu kami kembali memasuki hutan perbatasan antara Cihurip dan Cikajang. Sungguh perjalanan malam yang sempurna, di tengah hutan dengan bulan yang separuh purnama, hanya ada kami di dalam mobil dan Sang Maha Pencipta. Sungguh, perjalanan yang mendebarkan dan penuh rasa kepasrahan pada-Nya.
            Selepas pertigaan Cikajang dan Singajaya, jalan kembali ramai, kami melaju terus melewati kota kecamatan Cikajang, Cisurupan dan Bayongbong. Ketika sampai di kota Garut tepatnya sebelum Tarogong kami terjebak macet yang lumayan panjang. Diperkirakan penyebabnya adalah karena banyaknya wisatawan yang berkunjung ke pemandian air panas. Dan saat keluar dari ruas jalan lingkar Nagreg kami terjebak kemacetan lagi, karena bertemu dengan laju kendaraan dari arah Tasik yang melalui tanjakan Nagreg. Selepas Cicalengka kami dapat melaju dengan lancar dan selamat sampai tujuan. Jadi total waktu tempuh Ranca Buaya-Bandung via Pameungpeuk dalam kondisi macet adalah 8 jam, melelahkan namun menyenangkan.
            Demikianlah kisah perjalanan seharian bersama para adventurer pemula yang masih berusia belia. Semoga menjadi titik awal lahirnya jiwa-jiwa petualang yang dapat melestarikan keindahan dan kekayaan alam Indonesia, khususnya di Jawa Barat, serta menjadikannya sebagai media pendekatan diri pada Sang Pencipta. Aamiin.
            Alangkah indah dan kayanya alam pariwisata Jawa Barat. Hal ini akan semakin menguntungkan dan membanggakan apabila lebih baik lagi dalam pengelolaannya. Seperti adanya paket khusus wisata pantai yang mengelilingi seluruh pantai di Jawa Barat, yang juga terjaga kebersihannya.

***

Senin, 22 Oktober 2012

Kunjungan Murid RA Persis 08 ke Brimob Polda Jabar

          Kamis, 11 Oktober 2012, seluruh murid RA Persis 08 berkesempatan mengunjungi Brimob Polda Jawa Barat, yang terletak di Jalan Kolonel Achmad Syam No. 17 A Sumedang, namun masyarakat sekitar lebih mengenalnya dengan nama Jalan Sayang. Tujuan kunjungan ini adalah untuk memperkenalkan profesi Polisi khususnya kesatuan Brigade Mobil atau yang lebih dikenal dengan Brimob, sehingga diharapkan semua murid nantinya dapat mengenal lebih dekat dengan tugas Polisi.

Seluruh murid berkumpul di halaman RA tepat pukul 07.00 WIB. Kemudian Bu Ina Andriani, selaku Kepala Sekolah memberikan sambutan singkat sebelum keberangkatan.

 
 Sambutan Ibu Kepala Sekolah


Setelah itu mereka langsung menuju lapangan parkir dimana dua buah bus telah menanti. Satu bus untuk murid-murid RA bersama Ibu dan Bapak Guru, sedangkan satu bus lagi untuk orangtua murid. Rute yang dilalui adalah jalan tol Buah Batu lalu keluar dari gerbang tol Cileunyi. Karena kondisi lalu lintas lancar jadi  perjalanan hanya ditempuh selama 30 menit saja. 

 Kehebohan di Dalam Bus

Ketika sampai di lokasi, murid-murid beristirahat sebentar lalu berbaris menuju lapangan bola, untuk mendapatkan sambutan dari Pasilat Satbrimob Jabar Bapak Kusdinar. Lalu mereka mendapatkan pelajaran singkat tentang baris-berbaris. Diantaranya aba-aba untuk bergeser ke kanan ataupun ke kiri, dan memberi hormat. 

                          Sambutan dari Pak Kusdinar                                      "Hormat Gerak!"

Setelah itu untuk memperlancar jalannya kegiatan, murid-murid dibagi dua kelompok, laki-laki dan perempuan. Murid laki-laki terlebih dahulu menaiki kendaraan Barracuda dan Panser, sementara murid perempuan berkumpul di teras pendopo untuk mendapatkan pemaparan dari Bapak Kris tentang fungsi dan kegunaan berbagai macam peralatan tim SAR. Diantaranya terdiri dari tali, harness, webbing yaitu tali berbentuk pita, carabiner, ascender, kerekan, auto stop, jangkar, sepatu katak, snorkel, pompa, lampu belor, tenda, dan panci kecil untuk memasak.  Seluruh murid pun mendengarkan dengan antusias dan tak jarang pula terlontar celoteh lucu dari bibir mereka. Seperti ketika Pak Kris mengangkat jangkar, ada yang spontan menjawab, “Air mancur,” dan masih banyak celoteh lainnya.


 
 Pak Kris yang Humoris

Materi selanjutnya adalah pengenalan tentang peralatan anti huru hara, yang disampaikan oleh Pak Asep. Diantaranya, yaitu pelontar gas air mata, peluru karet, peluru kosong (tidak mengeluarkan proyektil), peluru SSI (berukuruan 5,50 mm), magasin (tempat peluru, dengan jumlah peluru 30 buah), serbuk merica, senjata Laras Licin, tameng, dan aneka senjata lainnya. Lalu seorang Polisi memperagakan cara memasang masker pelindung terhadap gas air mata beserta pakaian anti peluru. Semua alat peraga itu digunakan oleh Polisi saat menghadapi aksi unjuk rasa yang berujung dengan tindakan anarkis. 




Selain itu Polisi tersebut menjelaskan tips bila terkena gas air mata. Yaitu, jangan menggosok mata dengan tangan. Lebih baik mencuci kedua mata dengan air secara terus menerus atau mengoleskan pasta gigi melingkar di sekitar kelopak mata. Karena apabila kedua mata digosok akan menimbulkan iritasi yang berkepanjangan. Bila terkena mata, gas air mata ini dapat bereaksi selama dua jam. Kemudian pada sesi ini pun semua murid mendapatkan kesempatan untuk pemotretan dengan memakai berbagai senjata yang ada. Tentu saja semua senjata telah dijamin keamanannya.
Selanjutnya murid-murid diberikan pemaparan mengenai Unit Penjinakkan Bom atau Jibom. Mereka mendapatkan penjelasan tentang  dua jenis bom, yaitu mortir dan granat tangan. Ternyata kedua jenis bom ini masih banyak  ditemukan di beberapa tempat di wilayah Indonesia. Sehingga mereka mengerti agar segera melapor pada pihak berwajib apabila menemukan bom seperti itu.
Lalu mereka pun diperkenalkan kepada beberapa  jenis detektor bom, yang terdiri dari metal detektor, mirror (sejenis cermin bertangkai panjang) untuk melihat benda-benda yang ada di atas plafon. Dan ada pula alat proteksi, seperti helm tahan peluru, body face atau baju tahan peluru, body armor yaitu pelindung badan berbobot 27 kg, dipakai saat mengamankan bom, yang terbuat dari serat kepler. Kemudian ada pula alat penjinak bom dengan menggunakan kejutan listrik, dan X-Ray portable, yang menggunakan tenaga nuklir. 

                           Body Armor                         Mortir dan Granat Tangan                                                                              
                                      X-Ray Portable                                               Monitor X-Ray Portable


Bagian terakhir adalah penjelasan tentang kendaraan penyelamatan (Ranmatan), yang terdiri dari Barracuda dan mobil Panser. Barracuda merupakan produksi Korea, yang diimpor tahun 2003 dan 2007. Pada saat itu berharga 3,2 miliar rupiah. Lalu Panser, tahun 1994, seharga  1,4 miliar rupiah. Ranmatan ini, sesuai dengan namanya juga dapat digunakan untuk menyelamatkan para pemain bola apabila terjadi kerusuhan dan digunakan pula saat diadakan konser penyanyi artis papan atas. 

 Konvoi                                                   Barracuda, Tahun 2007


 
                               Murid-Murid Menaiki Barracuda                        Panser, Tahun 1994
 
Acara kunjungan hari itu diakhiri dengan makan siang bersama di bawah tenda yang telah disediakan di lapangan bola. Dan anak-anak pun dengan bebas bermain di arena jembatan tali yang dikaitkan pada beberapa batang pohon Jati.

 Murid-Murid Bermain dengan Gembira


Ada beberapa moto Brimob yang terpampang pada beberapa tembok batu. Diantaranya tertulis, Jiwa Ragaku Demi Kemanusiaan, Jangan Jadikan Brimob Serba Boleh, Tapi Jadikan Brimob Serba Mampu, serta Disiplin, Hirarki, Loyalitas, Kehormatan. Tentu saja kesemua tulisan itu mempunyai arti yang sangat penting bagi setiap anggota Brimob. Semoga saja seluruh warga Indonesia dapat lebih menghargai usaha dan kerja keras mereka demi membela keamanan Negara Republik Indonesia.