Tampilkan postingan dengan label nocturno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nocturno. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Januari 2013

Pagi di Januari

dedaunan basah
terdiam menerima takdir waktu
pancarkan ketenangan yang memabukkan
rerintik pun masih menerpa wajah tengadahnya
berpasrah

seperti peristiwa menggilas jalan hidup
bersama irama gelombang 
sirnalah gelisah jiwa 
selama asma-Nya bersemayam di hati

Rabu, 21 November 2012

Paranoia

Malam tak lagi purnama
Siang enggan menawarkan keteduhan
Rentetan waktu melolong dalam kepedihan
Meretas relung dalam gemuruh gelombang

Tak ‘kan habis tanya melambung
Dari tipis bibir pelantun kehidupan
Tak juga cukup peristiwa tersaji
Dari kitab Sang Pencipta


Hanya pilar doa yang makbul
Mengumbar segala pinta
Meski hanya larik nada sumbang
Melagukan kemuskilan

Segala yang tersimpan
Tak ‘kan berdiam dalam kebekuan
Bersemayam, menggeliat hingga mencengkeram
Membebat jiwa

Hanya kejujuran sanggup menenangkan
Pengertian mampu menghilangkan
Sekelumit kisah perjalanan insan
Tak butuh penyelesaian, hanya sebuah pelepasan

(tepisunyi, 020011012)

Selasa, 30 Oktober 2012

Sebuah Hanya

sumber foto: mbah google

 Batas,
Disini aku mengetuk
Tentang arah perjalanan
Darimana semua berawal

Waktu,
Tunjukkan kuasamu
Tentang melumat peristiwa
Tak bersisa
Hanya, sebuah kenang..

Jumat, 28 September 2012

Puisi untuk Abah

Sepuluh tahun
Bukan pula waktu yang singkat
Juga tidak terbilang lama
Namun inilah titik awal untuk melaju

Menyimak dan bercerita
Adalah irama yang kita dendangkan
Mengerti dan memahami
Adalah suara yang kita nyanyikan
Memaafkan dan memberi kesempatan
Adalah mahkota kebebasan dalam kebermaknaan
Senyum dan pelukan
Adalah tempat segala rasa menemukan perlindungan

Derai luka dan prasangka
Menjembatani lahirnya ketulusan
Khilaf dan lupa
Mewarnai perjalanan waktu
Melahirkan pertaubatan

Terjawab sudah sekelumit resah dan tanya
Pengalaman memberikan pemahaman
Tentang arah perjalanan, hati dan fikiran

Bagaimana sebuah ikatan dapat menguatkan
Tapak-tapak pencarian menjejak harapan ke depan
Bintang utara menunjukkan arahnya
Menerangi, bertabur gemintang
Pada siapa yang mencari jalan pulang, untuk
Sebuah kebersamaan

Disinilah kita, Kau dan Aku

(tepisunyi, 02909012)

Kamis, 13 September 2012

Melarungkanmu, Jiwa


Pelangipun menghapus warnanya
Sebelum titik air sempat melesat

Merapal kelamnya syair sunyi
Melebur bayang dalam lipatan waktu

Melompati genangan, enggan basah
Biar mentari membisukan jejak pencarian

Karena disini, adalah waktu yang berulang
Pada masa yang tak sama

Merepih

Mempertegas batas antara hitam dan putih
Mendistorsi arah perjalanan

Rabu, 21 Desember 2011

Untukmu, Ibu


Ibu
Satu kata yang menimbulkan kesan mendalam. Pendidik, teladan, pelindung.  Tempat berpulang dan menggantungkan segala suka, duka yang menyelimuti diri.

Ibu
Tak pernah memahami dirimu seutuhnya, hingga aku pun menjadi seorang ibu.
Ku tak mengerti ketika emosi melingkupi dirimu. Saat melihat kami, anak-anakmu saling berselisih memperebutkan hal-hal yang Kau anggap sepele. Namun bagi kami itu adalah hal yang besar, eksistensi dan superioritas. Sekarang baru aku mengerti. Sesungguhnya kedamaian dan saling berbagi yang Kau inginkan.

Ibu
Ku tak mengerti ketika Kau melarang kami mempunyai hubungan khusus dengan seorang lawan jenis di saat usia kami belum lagi dewasa. Sekarang baru kupaham. Bukan karena Kau tak percaya. Tetapi lebih karena Kau ingin menjaga kehormatan anak-anakmu. Kau mengingikan agar anak-anakmu bersikap alami sesuai perkembangan usia dan senantiasa selalu dalam keselamatan. Kini, kumerasakan betapa khawatirnya aku ketika anak-anak jauh dari pandangan mata. Hanya doa sebagai pelindung mereka. Sungguh, sebuah rasa yang tak nyaman, Ibu.

Ibu
Kubaru tahu, dalam lelahmu terhadap romantika hidup. Tak pernah sedetik pun Kau ingin meninggalkan kami, anak-anakmu. Kami adalah prioritasmu. Kau korbankan separuh jiwamu untuk menjaga, melindungi, dan mendampingi kami. Sedangkan aku? Jiwaku tak sekuat dan seteguh kau, Ibu.

Ibu
Kau tidak pernah meminta apapun dari kami. Satu pelajaran terbesar dalam hidup, Kau ajari kami untuk selalu jujur dan memberi. Kau berjiwa besar ibu.
Dan keinginan terbesarmu hingga saat ini adalah agar anak-anak dan cucu-cucumu tumbuh menjadi hamba-hamba yang soleh dan solehah.

Ibu
Sesederhana itu pintamu. Namun, Kau tahu? Itu sangat berat, Ibu. Meski aku mengaminkan doamu teramat dalam. Namun, pintaku padamu, tetaplah doakan kami, anak-anakmu yang hidup dalam perputaran zaman yang semakin berat. Tolong, doakan kami.

I love you, Mom. Semoga kami bisa mendidik cucu-cucumu dengan kasih sayang dan tumbuh dengan percaya diri. Aamiin..

(Tepisunyi, 022012011)

Sabtu, 10 Desember 2011

Senja Meredup


Serupa hujan dan bulirnya yang menghantam tubuh bernyawa
Membahana, menaungi insan dengan derainya yang menggelora
Menghantar aneka rasa dalam satu hempas saja

Bersidekap pada rapuhnya hati
Menjaga agar tak setetespun rintiknya menelusup dalam lembar kehidupan
Berkelindan dan menjegal waktu dengan raungannya

Derap rinainya menghadirkan pesona tak berkesudahan
Bulir kristal berkejaran menjamah tubuh hingga mendatangkan gigil
Membiarkan setiap tetesnya menyapa epidermis kulit yang membalut tubuh

Tak ada sekat. Hilang cemas yang membelenggu jiwa
Mewujud suatu kepasrahan yang membebaskan
Lepas..

(tepisunyi, 011012011)

Jumat, 09 Desember 2011

Arahmu

 Syahdu. Kau belai lembut senjang udara sekitar. Selarik pijar hangat memimpin gulita malam. Hanya ada kau dan bayangan. Teguh dalam keabadian, seujung batas usia..

Selasa, 06 Desember 2011

Hempas

hampa meringkus abjad dalam sekejap
lelap ingin dalam hening
mati suri
entah kapan kembali
sementara waktu lebur dalam rotasi
sunyi, dalam damai jiwa

(tepisunyi, 07012011)

Sabtu, 15 Oktober 2011

Sang Pemilik Kehidupan


Kuhempas untai peristiwa dalam satu hela nafas
Sunyi mengisi kelam yang perlahan menghampa
Semua notasi makna melesat menuju langitMu
Mengalun dengan syahdu seiring amal yang terukir

Namun bait nada sumbang pun kerap terukir
Tak sanggup kurangkai indah dengan segala lemahku
Bagaimana mungkin?
Goresan cela pada catatan usangku berjejal dan tumpah ruah


Seribu tahun yang Kau selipkan dalam satu hari
Menyayat asa dalam ketakberdayaan
Mengiris benak dengan segala fatamorgana
Tuhan, betapa terseoknya aku menapaki waktu..

(016010011, tepisunyi)

Sabtu, 17 September 2011

Ketika Langit Tumpah Ruah

setelah angin membisikkan kabar akan kedatangan anugerah berupa rerintik nan syahdu
hujan pun turun membasahi kerontang perjalanan
meleburlah mereka dalam balutan pesona derau yang memutih

saat itu pula kau singgah di benak dan fikiranku
tentang geletar masa lalu yang sempat menoreh luka dalam memori
kembali menyapa bersama gigil yang menghunjam

segera kubasuh risauku dengan mantram penawar
agar menyatu bersama aura yang terpancar dari gelisah waktu
kepasrahan merajam jiwa

dan ketika awan telah tuntas meluapkan butirbutirnya
hingga melesap ke dalam celahcelah bumi
alam pun berhenti meliukkan tarian hujan

senyap
sejuk merasuk
menjamah setiap selsel saraf

meneruka warna baru pada ruang terbentang
oksigen berhamburan
menelusup lubuk terdalam

dariMu, untuk kami..

(tepisunyi, 01709011)

Senin, 01 Agustus 2011

Geletar di Pengasingan

deru nafas memburu
mencekam dalam kelam
mencekat rindu yang membebat

terhunus takdir yang mengibu
pada bilik waktu kemestian
yang tertulis dalam kitabNya, di Lauh Mahfudz

Sabtu, 30 Juli 2011

PintuMu


percik lembayung
menghantar sebuah bayang
diam membisu pada pinggan kepasrahan

tertunduk malu
berpeluh dosa dan airmata
harap selalu pelukanMu

selarik nelangsa membias di pelupuk
menarinari dalam mahligai ketidakberdayaan
menjerat nafas dalam hela keikhlasan

Tuhan, ingin selalu denganMu



Sabtu, 09 Juli 2011

Satu Jalan Pulang


Tuhan..
pada angan yang tak sampai
ia hembuskan jerit tertahan
dari lubuk kelam yang tak berkesudahan

berharap masa hapus perlahan
goresan peristiwa yang semakin melebur dengan waktu
semesta  pun berkehendak sama
namun siapa sanggup memisahkan senja dari jingganya?

merintih dan meronta jinakkan asa yang menggeliat
menghimpit relung jiwa dan benak di kepala
haruskah melarungkan sejumput asa tersisa
pada binar mentari pagi yang menyapa?

ia,
terhimpit sepi
sendiri, memendam

bila kisah kehilangan arah
kemana hendak berlabuh
kegamangan merajam bilah memori
hentak rasa menerjang marka

namun..
sepercik sinar membebat nurani
untuk kembali..

(tepisunyi, 0900700011)

Senin, 27 Juni 2011

Menapak Jejak

by Dhini Aprilio on Sunday, June 26, 2011 at 9:55pm

senja berguru kepada gemuruh malam
tentang hakikat keabadian
tak ingin seperti mentari yang terhimpit garis cakrawala
pun seperti bulan dan bintang yang terusir langit terang

belum tuntas dahaga terpuaskan
fajar kembali menyapa dengan cerahnya kehangatan
mengharubirukan semua pertanyaan
mewujud satu bukti perputaran, suka dan duka

kembali menapak pada jejak yang berbeda
sembari menghias waktu dengan percik cahaya
berharap selalu ada derai rengkuhan disana
membahana dan menghanguskan gelisah semesta

semilir angin musim semi membelai dedaun kering
merapatkan kembali tangkai yang hampir terlepas dari reranting
menelanjangi fikiran dari selimut kenaifan
mencumbu kesadaran dengan setangkup kenangan


Kamis, 23 Juni 2011

Kembali

by Dhini Aprilio on Thursday, June 23, 2011 at 6:01pm
hening tanpa suara
terdampar dalam diam
belenggu himpit kubikel warna
terhempas dalam bisu semilir angin

tertatih melangkah
menatap nanar jendela sudut ruang
mereguk segar  oksigen dalam  kerontang masa
memaparkan sederhana fikir dan menerima

seiring sempurnanya metamorfosa
kembali berlabuh percik arah
mendamaikan remuk redam aura jiwa
menunjukkan utara pada arahnya
membimbing selatan pada jalan pulangnya

corak ragam peristiwa
terpateri di benak jingga
menggores waktu dengan cakra
merobek lembar mimpi yang meragu

berharap revolusi waktu
dapat menyelamatkan raga sang pelakon
membiaskan kemelut kelam
mewujud warna pelangi pada rembang senja

kembali melihat dengan mataNya
mendengar dengan telingaNya
berkata dengan suaraNya
berbuat dengan cintaNya

tak ada takut dan sedih hati, pada mereka yang beriman dan mengadakan perbaikan (QS 48 : 6)


tepisunyi, 02300600011

Sabtu, 04 Juni 2011

Seperti Angin dan Gemawan, Tidak Selamanya Sejalan

by Dhini Aprilio on Sunday, June 5, 2011 at 12:56am

di rembang malam
rinai hujan pun tak enggan menyapa waktu
menyanyikan nadanada kesejukan
hingga derainya menyelusup mesra pada daun telinga
bersama butirbutir kristal yang terus melesap
merasuk ke dalam hening gumpal tanah yang hangat.

senja tadi
riuh derainya sempat tertunda
meski gemawan yang pekat telah menghias langit dengan arogan
membuat insan bergegas dengan derunya
lambungkan cemas ke udara
hingga menambah polutan semakin ramai bercengkrama

memang tidak bisa ditebak apa maunya
meski hembus sang bayu telah mendesaknya untuk menarikan tarian yang sama di ufuk timur
hingga terpenuhi ¼ bagian lagi
agar derai dapat jatuh tinggalkan langit sebagai penopang
dan bumi sebagai cawan raksasa

tapi begitulah terkadang perjalanan hidup
tidak selamanya keinginan dapat digubah menjadi suatu simfoni
meski asa terukir dengan kokoh dan rangkai harap tak henti melambung
bila, Sang Maha belum mengijabah
bisa apa kita?
selain berpasrah dan terus meraih, menoreh jejak keabadian

(tepisunyi, 0400600011)

Juni yang Bersemi

by Dhini Aprilio on Thursday, June 2, 2011 at 9:20am

waktu berbilang hari
mengawal buana menjajagi perputaran rotasi
dari setiap hela nafas yang melambung
uapkan sebentuk wujud pada cermin pertapaan

untuk Juni yang hangat
semakin merona dengan hadirnya mentari di hati
menyuburkan pertumbuhan akar kehidupan
menyebar ke segala penjuru
menyerap segala hara yang tersaji
hingga berserilah kelopak, mewangi
ceriakan hari yang bersemi, denganmu..

(pagi di sebuah taman, 0200600011)

Pemilik Asa

by Dhini Aprilio on Sunday, May 29, 2011 at 6:16am

Aku tidak akan bertutur tentang rumput hijau yang menguning, atau dedaunan kering yang jatuh berguguran. Aku hanya ingin mengatakan bahwa hamparan permadani itu akan terasa indah dan bermakna, bila ada kau berbaring di atas lembut belaiannya.

Tepat di atas sebuah bentuk yang sengaja aku jejakkan untukmu. Sebagai tanda bahwa, aku adalah tetes embun penghilang dahaga yang akan menyejukkan hari, bila gersang menghampiri. Dan aku adalah rinai tawa yang akan mewartakan kebahagiaan pada hangat hatimu, bila muram menyapa.

Sebuah Arti

by Dhini Aprilio on Sunday, May 29, 2011 at 6:03am

Tak ada lagi harmoni ucap dan hati, ‘kan tertuang dari sebuah poci yang telah ternodai oleh karat sketsa tingkah laku.  Terlalu muskil untuk menghilangkan jelaga bertahun. Takkan mengembalikan pada warna semula. Hanya meninggalkan sebuah goresan pada sobek luka yang bernanah.
 Pun dirinya hanya menganggap harmoni ucap dan hati sebagai sebuah mutiara yang tersimpan dalam hangatnya cangkang. Lalu membiarkannya terpendam di palung terdalam. Tanpa ingin, ‘tuk sekedar melihatnya berkilau, merona dan tersipu.